Strategi Menuju Top 500 World Class University pada 2019 melalui program Double/Joint Degree

Globalisasi pendidikan tinggi saat ini diharapkan mampu meningkatkan mutu dan akses perguruan tinggi. Hal tersebut sejalan dengan salah satu kebijakan strategis Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tentang kebijakan pemerataan dan perluasan akses, mutu dan daya saing lulusan. Sehingga diharapkan setiap institusi pendidikan tinggi di Indonesia bisa memposisikan dirinya dalam deretan World Class University (WCU). Salah satu indikator menuju World Class University (WCU) adalah penyelenggaraan program internasional pada institusi pendidikan tinggi. Sebagai salah satu langkah konkrit yang bisa dilakukan adalah menjajaki kemungkinan kerja sama penyelenggaraan pendidikan dengan institusi pendidikan internasional.

Universitas Airlangga menjadi salah satu universitas yang ditunjuk oleh pemerintah melalui Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristek Dikti) untuk menjadi universitas kelas dunia. Untuk mengejar rangking 500 dunia pada 2019, Universitas Airlangga membutuhkan tidak hanya kerjasama internasional untuk pengembangan staf pengajar melainkan juga membutuhkan pengakuan secara kelembagaan melalui program pertukaran mahasiswa dan dosen, joint research dan program double degree/joint degree dengan universitas mitra di luar negeri. Program double degree/joint degree ini merupakan penyelenggaraan pendidikan yang memungkinkan peserta program dapat memperoleh double gelar yaitu gelar dari universitas Airlangga dan gelar dari universitas mitra serta ada pengakuan dari kedua belah pihak.

Guna mewujudkan Top 500 World Class University (WCU) pada tahun 2019, Direktorat Pendidikan UNAIR mengadakan Workshop Penyelenggaraan Program Double Degree/Joint Degree pada Sabtu (16/02) di Hotel Santika Premiere Gubeng. Kegiatan dihadiri oleh para Wakil Dekan I seluruh fakultas dan Koordinator Program Studi (KPS) yang akan menyelenggarakan program Double Degree/Joint Degree di Lingkungan UNAIR.

Pada pembukaan workshop tersebut, Direktur Pendidikan Prof. Dr. Bambang Sektiari Lukiswanto, drh., DEA mengungkapkan bahwa pada beberapa tahun terakhir ini UNAIR betul-betul menstimulasi terutama prodi-prodi yang sudah terakreditasi baik (A dan B), untuk bagaimana kemudian secara internasional ter recognized dan itu bukan hanya terkait rekognisi saja tetapi lebih pada peningkatan kualitas. Karena semakin terpapar dengan exposure internasional maka tentu saja rekognisi akan semakin meningkat, dan rekognisi itu tidak mungkin terjadi bila tidak diimbangi dengan kualitas-kualitas didalam berbagai macam kriteria maupun standar, baik itu pada tata kelola maupun kualitas standar output dan outcome yang ada. Sehingga penyelenggaraan program double degree/joint degree bisa ditingkatkan pada prodi-prodi yang sudah siap, dengan harapan tujuan nasional UNAIR untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia yang mampu bersaing ditingkat internasional itu bisa tercapai.

Meski begitu, imbuhnya tidak dipungkiri terdapat beberapa kendala terkait pelaksanaan double degree/joint degree, yakni pembiayaan, kemampuan bahasa inggris dari mahasiswa, dan kinerja akademik mahasiswa. Oleh karena itu Prof. Dr. Bambang Sektiari menekankan agar segala sesuatu harus mulai dipersiapkan sedari sekarang.

Direktur Eksekutif Airlangga Global Engagement (AGE) Prof Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih., Dra., Msi, dalam sambutannya menyatakan bahwa Penyelenggaraan program double/joint degree ini sangat penting karena dampaknya adalah pada nilai-nilai yang masuk kriteria World Class University (WCU) terutama pada tataran international faculty. Sehingga penyelenggaraan program double/joint degree ini dapat menjadi pemicu UNAIR menuju Top 500 WCU tahun 2019. Saat ini penyelenggaraan program double/joint degree di UNAIR masih tertinggal dari universitas tetangga sehingga UNAIR harus memacu diri agar bisa menjadi leader perguruan tinggi di indonesia.

Dalam kegiatan workshop ini Direktorat Pendidikan UNAIR mengundang narasumber dari Direktorat Kerjasama Perguruan Tinggi Ditjen Kelembagaan Iptek Dikti serta Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan – Kemenristek Dikti. Dalam paparannya R. Purwanto Subroto, Ph.D membahas kebijakan terkait Program Kerja Sama (Double Degree/Joint Degree), sedangkan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan bapak Alam Nasrah Ikhlas, S.S., M.Ed.L. menyampaikan Kebijakan dan Program Ditjen Belmawa dalam Implementasi dan Pengembangan Kerja Sama Internasional di Perguruan Tinggi. Tidak ketinggalan juga, dalam sesi berikutnya kami juga mengundang narasumber dari Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) UNAIR serta Airlangga Global Engagement (AGE).

Sebagai puncak acara dalam kegiatan workshop ini tidak lupa juga kami mengundang best practice dari prodi yang sudah menyelenggarakan program double/joint degree di UNAIR untuk sharing pengalaman dalam mengawal program double/joint degree di prodi masing-masing. Dalam penutupan acara, Direktur Pendidikan berharap agar amanah yang sudah diberikan oleh pucuk pimpinan bisa kita laksanakan bersama-sama dengan proses yang excellence dari input yang baik dan menghasilkan output yang excellence serta selalu berpijak dalam proses sustainability program yang sudah dijalankan.

Related Post